Jepara, –GlobalNasionalNews.Com — Ketum Aliansi Jurnalis Bersatu (AJB), Andi Mulyati, baru-baru ini menyoroti kondisi Benteng Portugis di Jepara yang disebut tidak terawat. Dalam pernyataannya, Andi Mulyati menyentuh isu pelestarian situs bersejarah ini, yang menurutnya menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Benteng Portugis, yang dibangun pada 1632 oleh Portugis atas kerjasama dengan Kesultanan Mataram, memiliki nilai sejarah penting sebagai titik pertahanan di pantai utara Jawa .
Namun, kondisi terkini Benteng Portugis menunjukkan tanda-tanda kurangnya perawatan. Sumber menyebutkan bahwa area benteng dipenuhi semak belukar, fasilitas seperti kamar mandi tidak terurus, dan sebagian struktur tembok yang terbuat dari batu padas sudah rusak , Hal ini mengurangi daya tarik wisatawan dan mengancam kelangsungan situs cagar budaya tersebut.
Andi Mulyati juga menekankan pentingnya pengelolaan yang baik agar situs ini tidak hanya menjadi tempat wisata, tapi juga sarana edukasi sejarah. Ia mengingatkan bahwa kelalaian dalam perawatan bisa menyebabkan hilangnya identitas budaya dan sejarah bagi generasi mendatang .
Benteng Portugis terletak di Kecamatan Donorojo, Jepara, di atas bukit yang menghadap Laut Jawa. Desainnya mencakup tiga pintu masuk dan meriam-meriam kecil yang menghadap ke laut, menjadikannya strategis pada masanya.
Menurut laporan, pemerintah daerah dan pengelola setempat sering kali kekurangan dana untuk perawatan, sehingga banyak bagian benteng yang rusak dan tidak terawat. Ini menjadi isu yang sering disoroti oleh komunitas pelestari budaya dan jurnalis.
Andi Mulyati berharap dengan sorotan ini, perhatian pemerintah dan publik meningkat, sehingga alokasi anggaran dan upaya pelestarian bisa lebih efektif. Ia juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga warisan sejarah ini .
Benteng Portugis bukan hanya monumen, tapi juga simbol kerjasama dan konflik antara Mataram, Portugis, dan VOC pada abad ke-17. Memelihara situs ini berarti menghormati sejarah perlawanan dan diplomasi masa lalu .
Dengan langkah konkret dan kesadaran kolektif, diharapkan Benteng Portugis bisa kembali menjadi destinasi wisata sejarah yang layak dikunjungi dan dipelajari oleh semua kalangan.
( Wijaya )
